Sering Sakit? Hm… Mungkin Kamu Kurang Piknik

Sering Sakit? Hm… Mungkin Kamu Kurang Piknik

2933
SHARE

Akhir pekan biasanya dimanfaatkan oleh kebanyakan orang untuk bertamasya. Selain menyegarkan tubuh dan pikiran, ternyata piknik bisa memicu sistem kekebalan tubuh meningkat.

Riset yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Queen Mary University of London mengungkapkan bahwa bertamasya selama dua pekan bisa meningkatkan kinerja sistem kekebalan tubuh dan membantu melawan infeksi.

Penelitian yang sudah diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Immunology merupakan bukti pertama bahwa lingkungan yang berubah akan memengaruhi fungsi sel-T, suatu jenis sel darah putih yang sangat penting bagi kekebalan tubuh. Sel-T juga bisa memperkuat orang yang terjangkit HIV, radang sendi dan penyakit kronis lainnya.

Para ilmuwan mengungkapkan bahwa perubahan tempat hidup pada tikus selama beberapa waktu ternyata mengubah secara dramatis sel-T yang membuat tikus-tikus ini mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam menghadapi dampak peradangan.

Untuk melakukan studi ini, para peneliti menempatkan tikus-tikus ke dalam lingkungan normal dan lingkungan baru yang lebih baik selama dua pekan. Lingkungan yang normal terdiri dari kandang yang berisi serbuk gergaji dan bahan-bahan lain yang biasa digunakan oleh tikus sebagai tempat bersarang.

Sementara itu, lingkungan baru yang disediakan para ilmuwan adalah sebuah kandang yang lebih luas dengan serbuk gergaji dan mainan, termasuk sarang berbentuk kotak warna-warni, tabung, roda berjalan dan sebuah ayunan.

Professor Fulvio D’Acquisto dari William Harvey Research Institute di Queen Mary University of London mengatakan,”Setelah tikus-tikus itu ditempatkan dalam lingkungan baru yang lebih baik yang mempunyai ruang lebih besar dan mainan lebih banyak, sistem kekebalan tubuh binatang-binatang ini berubah total dan menjadi lebih baik untuk melawan infeksi.”

“Efek perpindahan lingkungan ini tampak nyata karena kami tidak memberikan obat-obat apapun kepada binatang ini. Yang kami lakukan hanyalah mengubah kondisi kandang mereka. Anda bisa mengatakan bahwa kami hanya mengirimkan tikus-tikus ini untuk bertamasya di sebuah resor selama dua pekan dan membiarkan mereka menikmati lingkungan baru mereka,” papar D’Acquisto.

Lebih lanjut D’Acquisto mengatakan bahwa sel-T yang diambil dari tikus-tikus ini menunjukkan adanya pola unik dalam pelepasan sinyal molekul tertentu yang memainkan peranan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Sinyal-sinyal itu antara lain tingginya tingkat Interleukin 10 dan Interleukin 17 ketika dibandingkan dengan sel-T yang diambil dari tikus yang hidup dalam lingkungan normal.

Selain itu sel-T yang diambil dari tikus-tikus yang mendapat lingkungan baru juga mempunyai sidik genetik yang unik. Sebanyak 56 gen ternyata terlibat dalam penyembuhan dan memerangi infeksi.

D’Acquisto menambahkan bahwa percobaan ini masih perlu dilakukan pada manusia, namun tampaknya hasilnya akan menarik.

“Apa yang terjadi jika dokter bisa mengubah lingkungan pasien dan meresepkan tamasya selama dua pekan bagi penderita sakit? Atau mungkin kita bisa memacu dampak obat yang berhubungan dengan penyembuhan infeksi dengan cara menempatkan pasien dalam sebuah lingkungan yang memperbaiki kesehatan seseorang. Itulah pendekatan yang mungkin berguna dalam perawatan penderita penyakit kronis,” ujar D’Acquisto.

Kurang piknik membuat otak dipenuhi pikiran negatif

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Science membuktikan bahwa piknik dengan cara berjalan-jalan di alam bebas bisa mengurangi pikiran negatif. Jadi jika seseorang tidak pernah mempunyai pikiran positif, ada kemungkinan orang tersebut membutuhkan piknik beberapa waktu.

Untuk sampai pada kesimpulan ini, para ilmuwan dari Stanford University melakukan percobaan terhadap 19 orang yang berjalan kaki 90 menit di alam bebas. Hasilnya, pikiran negatif orang-orang ini ternyata lebih rendah daripada 19 orang lain yang berjalan kaki di lingkungan perkotaan yang sesak dan serbasibuk.

“Hasil penelitian ini menarik karena hanya dengan berjalan 90 menit bisa memberikan dampak sebesar ini,” kata Gregory Bratman, mahasiswa doktoral yang melakukan penelitian tersebut, dikutip dari Livescience.

Para peserta penelitian dalam kelompok pertama berjalan-jalan di sekitar Stanford, sebuah tempat yang ditumbuhi rerumputan, pepohonan dan semak-semak yang lebat. Sementara itu kelompok lainnya berjalan-jalan di salah satu ruas jalan tersibuk di sekitar Palo Alto, California, Amerika Serikat.

Pikiran negatif yang muncul di kepala para partisipan diungkap melalui kuesioner. Selain itu, tim peneliti juga melakukan pemindaian terhadap aktivitas otak relawan sebelum dan sesudah jalan-jalan. Hasilnya, jalan-jalan di alam bebas menurunkan aktivitas otak di bagian yang berhubungan dengan penyakit mental.

Sumber : Beritagar.id

PLEASE SHARE :)