Ketika Fisikmu Jadi Bahan Lelucon dan Hati Memintamu Tetap Kuat

Ketika Fisikmu Jadi Bahan Lelucon dan Hati Memintamu Tetap Kuat

3359
SHARE

Memiliki wajah yang cantik serta tubuh yang indah memang menjadi impian setiap wanita. Namun, tidak semua wanita ditakdirkan seperti itu. Seringkali orang hanya memandang dari fisik luarnya saja. Bahkan fisik luar seseorang seringkali menjadi lelucon bagi orang lain. Hal itulah yang pernah aku alami.

Sebut saja namaku Dina. Sejak kecil aku tinggal di desa. Meskipun keluargaku tidak bergelimangan materi, kami saling mendukung satu sama lain. Keluargaku sangat mencintaiku. Aku tumbuh seperti gadis pada umumnya. Namun, aku tidak terlalu mengikuti perkembangan fashion dan jujur aku sama sekali tidak suka untuk berdandan.

Ketika masih SD aku begitu polos. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan soal penampilan. Aku hanya belajar, belajar dan bermain. Karena satu kelas hanya 19 anak, aku tidak pernah membandingkan diriku dengan teman-teman yang lain.

Ketika SMP pun sama. Setiap hari aku hanya belajar dan membantu pekerjaan ibu di rumah. Aku memiliki tinggi badan yang bisa dibilang pendek yaitu 153 cm. Berat badanku sekitar 49 kg. Mataku sipit dan pipiku juga lumayan besar. Gigiku juga tidak teratur. Ketika SMP, aku mulai memperhatikan setiap orang di sekelilingku, baik lawan jenis maupun sesama jenis. Aku juga mulai membandingkan diriku dengan teman-teman wanita yang lain. Aku mulai merasa minder dengan kondisi fisikku jika dibandingkan dengan temanku yang lain.

Ketika awal masuk SMP, setiap orang yang aku kenal pasti akan meremehkanku. Dari cara mereka berbicara kepadaku, pasti ada nada–nada mengejek dan cenderung meremehkan. Ya mungkin saja karena kami baru bertemu dan belum mengenal sepenuhnya. Dari situ aku terpacu untuk lebih giat lagi dalam belajar dan menunjukkan bahwa aku bisa berprestasi walaupun fisikku tidak sebaik temanku yang lain. Akhirnya aku berhasil meraih peringkat pertama dan teman–temanku mulai menghargaiku.

Ada hal yang paling menyedihkan yang aku ingat sampai sekarang. Ketika kelas 2 SMP, ada sebuah lomba siswa teladan. Aku lumayan berprestasi di sekolah dan sebagian temanku mengatakan bahwa aku akan ditunjuk untuk mengikuti lomba itu. Pada awalnya aku tidak begitu percaya. Meskipun begitu ada perasaan senang di hatiku. Aku menjadi tambah semangat untuk belajar. Mendekati hari lomba, aku penasaran kenapa aku belum juga dipanggil.

Pada suatu hari, aku disuruh guru bahasa indonesiaku untuk mengumpulkan buku di kantor. Dari kejauhan ada seorang guru yang menatapku tajam. Guru itu lalu berbicara kepada guru lain di sampingnya. Dengan ekspresi yang meremehkan beliau mengatakan kepada guru di sampingnya, “Tuh kan lihat aja. Orang kayak gitu masa disuruh ikut lomba.” Dalam hati aku sedih sekali, kenapa harus dilihat dari fisiknya. Dan pada akhirnya yang mewakili lomba adalah siswa tercantik di sekolahku.

Ketika SMA pun sama. Pada awalnya, mereka akan meremehkanku. Ketika mereka tahu aku lumayan pintar, mereka akan mendekatiku untuk menyontek PR atau tugas sekolah. Pernah ada suatu acara di mana semua siswa diwajibkan untuk menonton pertandingan bola basket. Aku sedang bingung karena tidak ada angkutan menuju tempat acara. Temanku sama sekali tidak ada yang mengajakku atau memberiku tumpangan. Ketika itu, aku benar–benar sedih. Terkadang aku berpikir, kenapa mereka begitu baik kalau ada maunya?

Tidak hanya di sekolah di rumah pun aku pernah mengalaminya. Ketika kakakku menikah, rumah kami sibuk menyambut tamu yang datang. Banyak saudara terdekat dan tetangga yang membantu kami. Pada waktu kami sedang duduk untuk mempersiapkan makanan, tetanggaku mengatakan kepadaku, “ Apa benar ini adiknya Tari?” Tari adalah kakakku. Orang itu mengatakannya di depan orang banyak. Tidak hanya itu ia juga mengulang kata itu sampai beberapa kali. Kakakku memang memiliki wajah yang cantik dan bisa dibilang sangat berbeda denganku.

Sungguh rasanya sedih sekali. Apa harus hal itu dikatakan di depan orang banyak? Apa harus diulang–ulang agar Anda puas? Rasanya ingin menangis saat itu juga. Namun aku berhasil menahan air mataku. Aku hanya diam dan tersenyum. Kakak dan Ibuku yang membelaku. Mereka mengatakan bahwa aku tidak pernah dandan dan aku sangat pintar di sekolah. Mungkin mereka ingin menghiburku.
Aku memang tidak suka berdandan dan mengikuti perkembangan fashion. Aku hanya memakai apa yang aku anggap nyaman. Di depan orang aku tidak akan pernah menunjukkan kesedihanku ketika mereka mencela fisikku. Justru hal itulah yang menjadi pemacu agar aku lebih semangat dalam belajar. Dan hal itu berhasil aku buktikan dengan beberapa prestasi yang berhasil aku raih. Setidaknya aku tidak lebih buruk dari mereka. Aku sangat bersyukur atas apa yang aku miliki. Tuhan memberiku organ tubuh yang lengkap dan semuanya dapat berfungsi dengan baik.

Saat ini aku sedang belajar dan belajar untuk meraih mimpiku. Aku percaya setiap wanita memiliki kecantikan yang berbeda. Orang yang memiliki fisik luar sempurna belum tentu baik di dalamnya. Begitu juga sebaliknya.

Jangan sampai kita menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya saja. Setiap orang memang bebas untuk berpendapat atau menilai fisik orang lain. Namun, jangan sampai pendapat itu justru mencela atau menghina fisik seseorang yang nantinya akan menyakiti hati orang tersebut. Dan satu hal lagi, kesuksesan tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik. Kerja keras dan doa lah yang akan membawa kita menuju kesuksesan.

Sumber: Vemale .com

PLEASE SHARE :)