Pria Ini Berhenti dari Pekerjaannya dan Jadi Pengemis, Lihat Penghasilannya Sekarang

Pria Ini Berhenti dari Pekerjaannya dan Jadi Pengemis, Lihat Penghasilannya Sekarang

8906
SHARE

Pada setiap sudut kota di dunia pasti anda pernah melihat pengemis meminta uang dan makanan.

Dan mereka juga sering dilihat dimana mana mana kota dan juga pasar yang sibuk.

Selain uang, mereka juga meminta makanan, minuman, Rokok atau barang barang kecil.

Dengan penampilan baju kotor, kurus kering dan tidak terurus.

Tapi jangan tertipu, ada banyak pengemis di luar sana yang mendapatkan lebih dari seorang pekerja kantoran sekalipun.

Dilansir eberita, seperti Orang ini, yang bersal dari Beijing, China.

Ia mendapat $ 1700 (Sekitar Rp 22 juta) per bulan.

dan juga membayar 100 yuan (Sekitar Rp 190 ribu) untuk setiap pekerja pos yang dapat membantu dia menghitung uangnya!

Bagian yang menarik tentang ini adalah.

Bahwa pria dalam gambar ini mampu menyekolahkan tiga anaknya ke perguruan tinggi hanya dengan mengemis.

Dia juga dapat membangun sebuah rumah dua lantai untuk keluarganya.
Dan mereka juga bisa makan makanan yang baik.

Mungkin setelah membaca ini beberapa orang berpikir.

“Saya tidak akan memberikan uang kepada peminta sedekah lagi.”

Bisa memberi uang pada pengemis tapi pastikan mereka itu adalah dari golongan yang benar-benar membutuhkan.

Kita bisa melihat orang mengemis pada setiap hari.

Alasan mereka untuk mengemis?

Kebanyakan mereka tidak dapat bekerja karena alasan yang mereka mungkin terlalu tua.

Atau bahwa mereka adalah orang cacat fisik.

Jadi tidak salah kita mengamati sedikit kondisi mereka sebelum memberi.

Dikutip dari Viral4real pria dalam foto ini menjadi kaya.

Setelah ia berhenti bekerja dan menjadi pengemis selama 20 tahun.

Pria Ini Berikan Uang Pada Pengemis, Jawaban Pengemis Itu Sangat Mengejutkannya

Memberi uang kepada pengemis dapat dianggap bersedekah. Maka hukumnya sunnah, karena bersedekah hukum asalnya sunnah. Wahbah az-Zuhaili berkata,“Sedekah tathawwu’ (sedekah sunnah/bukan zakat) dianjurkan (mustahab) dalam segala waktu, dan hukumnya sunnah berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.” (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/389).

Dalil Al-Qur’an antara lain (artinya),“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak.” (QS Al-Baqarah [2] : 245).

Dalil As-Sunnah misalnya sabda Nabi SAW,”Barangsiapa memberi makan orang lapar, Allah akan memberinya makanan dari buah-buahan surga. Barangsiapa memberi minuman kepada orang haus, Allah pada Hari Kiamat nanti akan memberinya minuman surga yang amat lezat (ar-rahiq al-makhtum), dan barangsiapa memberi pakaian orang yang telanjang, Allah akan memberinya pakaian surga yang berwarna hijau (khudhr al-jannah).” (HR Abu Dawud no 1432; Tirmidzi no 2373).

Namun hukum asal sunnah ini bisa berubah bergantung pada kondisinya. Sedekah dapat menjadi wajib.

Misalnya ada pengemis dalam kondisi darurat (mudhthar), yakni sudah kelaparan dan tak punya makanan sedikit pun, sedang pemberi sedekah mempunyai kelebihan makanan setelah tercukupi kebutuhannya. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/390).

Dalam kondisi seperti ini, sedekah wajib hukumnya. Sebab jika tak ada cara lain menolongnya kecuali bersedekah, maka sedekah menjadi wajib, sesuai kaidah fiqih : “Maa laa yatimmul wajibu illa bihi fahuwa wajib.” (Jika suatu kewajiban tak terlaksana kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu wajib pula hukumnya). (Saifuddin Al-Amidi, Al-Ihkam fi Ushul Al-Ahkam, 1/111).

Sedekah dapat menjadi haram hukumnya, jika diketahui pengemis itu akan menggunakan sedekah itu untuk kemaksiatan. (Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu, 3/390).

Misalnya, digunakan untuk berjudi, berzina, atau minum khamr. Hukum sedekah dalam kondisi ini menjadi haram, karena telah menjadi perantaraan (wasilah) pada yang haram. Kaidah fikih menyebutkan,”Al-Wasilah ila al-haram haram.” (Segala perantaraan menuju yang haram, haram hukumnya). (M. Shidqi al-Burnu, Mausu’ah Al-Qawa’id Al-Fiqhiyyah, 12/200).

PLEASE SHARE :)